
PURBALINGGA — PNN NEWS- Rencana kegiatan outing class siswa SMA Negeri 1 Purbalingga ke Yogyakarta menuai sorotan tajam dari wali murid. Program yang diperkirakan menelan biaya sebesar Rp895.000 per siswa dengan tujuan Jogjakarta dinilai memberatkan, terutama di tengah tekanan ekonomi yang masih dirasakan sebagian masyarakat Sabtu 18 April 2026
Informasi yang dihimpun menyebutkan, kegiatan tersebut mencakup kunjungan ke sejumlah lokasi dengan fasilitas makan enam kali serta menginap di hotel. Meski dikemas sebagai kegiatan edukatif, besaran biaya yang ditetapkan diduga memicu keberatan dari sejumlah orang tua.
Beberapa wali murid mengaku berada dalam posisi dilematis. Di satu sisi, mereka ingin mendukung kegiatan sekolah demi pengalaman belajar anak. Namun di sisi lain, keterbatasan ekonomi membuat mereka harus berpikir keras untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
“Situasi ekonomi saat ini tidak mudah. Kalau tidak ikut, kasihan anak. Tapi kalau ikut, harus memaksakan kondisi,” ungkap salah satu wali murid yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Keluhan serupa juga disampaikan wali murid lainnya yang mempertanyakan urgensi kegiatan ke luar daerah. Mereka menilai, kegiatan edukatif seharusnya dapat dioptimalkan dengan memanfaatkan potensi lokal di Purbalingga yang dinilai lebih ekonomis.
“Di Purbalingga juga banyak tempat edukasi. Tidak harus ke luar kota. Kalau bisa dibuat di dalam daerah saja agar lebih terjangkau,” ujarnya.
Menanggapi hal tersebut, pihak sekolah melalui Humas SMA Negeri 1 Purbalingga membenarkan adanya rencana tersebut, namun menegaskan bahwa kegiatan masih dalam tahap wacana dan telah disosialisasikan kepada orang tua.
“Rencana ini masih sebatas wacana. Sudah kami sampaikan kepada wali murid, dan kegiatan ini merupakan aspirasi siswa dengan mengacu pada surat edaran Dinas Pendidikan,” jelasnya.
Sekolah juga menyatakan tidak ada unsur paksaan dalam pelaksanaan kegiatan tersebut. Siswa yang tidak mengikuti outing ke luar kota akan tetap difasilitasi dengan kegiatan alternatif di dalam daerah.
“Bagi siswa yang tidak ikut, tetap ada kegiatan pengganti di dalam kota,” tambahnya.
Sementara itu, salah satu pelaku usaha biro perjalanan lokal di Kabupaten Purbalingga menilai besaran biaya tersebut masih berpotensi untuk ditekan. Ia menyebut, dengan nominal yang sama, paket kegiatan serupa umumnya dapat mencakup fasilitas tambahan.
“Dengan anggaran Rp895 ribu, sebenarnya masih bisa lebih optimal. Biasanya kami sudah termasuk seragam dan pengaturan kamar maksimal lima siswa. Kami juga sempat mengajukan proposal ke pihak sekolah, namun tidak dilibatkan dalam proses sosialisasi,” ungkapnya.
Ia berharap ke depan sekolah dapat melibatkan pelaku usaha lokal guna menciptakan sinergi sekaligus menekan biaya, tanpa mengurangi kualitas kegiatan
Wacana ini diharapkan menjadi bahan evaluasi bagi pihak sekolah dan pemangku kebijakan. Transparansi perencanaan, efisiensi anggaran, serta sensitivitas terhadap kondisi sosial ekonomi wali murid dinilai penting agar kegiatan pendidikan tidak justru menimbulkan beban maupun kesenjangan di lingkungan sekolah


