
Purbalingga – PNN NEWS- 02/04/2026 -Persaudaraan kerap dijadikan jargon, namun tak jarang hanya hadir sebagai formalitas tanpa makna. Ia dipanggil ketika kepentingan datang, lalu ditinggalkan saat keadaan berbalik. Jika demikian, yang tersisa bukanlah persaudaraan, melainkan relasi yang sarat kepentingan.
Makna persaudaraan sejati tidak pernah berdiri di atas kebutuhan sesaat. Ia tumbuh dari ketulusan, kepercayaan, dan komitmen untuk saling menjaga bukan saling memanfaatkan. Dalam persaudaraan yang sehat, tidak ada ruang bagi ambisi pribadi yang mengorbankan orang lain demi terlihat paling benar, paling kuat, atau paling hebat.

Pepatah Jawa “ojo dumeh” mengingatkan kita agar tidak terjebak dalam kesombongan. Kuasa, posisi, atau kelebihan bukanlah alasan untuk merendahkan yang lain. Justru di situlah ujian karakter dimulai: apakah seseorang tetap rendah hati, atau berubah menjadi sosok yang menanggalkan nilai-nilai kebersamaan.
Lebih ironis lagi ketika solidaritas disalahartikan sebagai alat untuk kepentingan pribadi. Kesetiakawanan bukanlah soal siapa yang paling diuntungkan, melainkan bagaimana setiap individu saling melengkapi, saling menguatkan, dan tetap berdiri bersama dalam situasi apa pun—baik saat lapang maupun sempit.
Sejarah telah berkali-kali membuktikan, kepura-puraan tidak pernah abadi. Sepandai-pandainya seseorang menutupi kebusukan, pada akhirnya akan tercium juga. Kebenaran mungkin tertunda, tetapi tidak pernah benar-benar hilang.
Pada akhirnya, persaudaraan sejati menuntut integritas. Ia tidak dibangun dengan kata-kata manis, melainkan dengan tindakan nyata. Bukan tentang siapa yang paling menonjol, tetapi siapa yang tetap setia, jujur, dan tidak mengkhianati kepercayaan.
Sebab di tengah dunia yang kian pragmatis, persaudaraan yang tulus adalah nilai yang langka namun justru itulah yang paling berharga.



