
PURBALINGGA – PNN NEWS- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diproyeksikan sebagai bantalan pemenuhan gizi balita justru tersandung kritik keras di Desa Kembangan, Kecamatan Bukateja. Di lapangan, bantuan yang semestinya menopang tumbuh kembang dinilai melenceng: porsi “seremonial”, rasa tak bersahabat.
Keluhan mencuat dari penerima manfaat di wilayah SPPG Kembangan 02 yang dikelola Yayasan Samingah, Rabu (29/04/2026). Paket menu berisi nasi putih, telur kecap, tumis labu siam (welok), bakwan jagung, dan apel hijau. Di atas kertas tampak memadai di piring, dinilai jauh dari layak konsumsi balita.

Sejumlah orang tua menyoroti aspek paling mendasar: rasa, tekstur, dan jumlah yang tidak “ramah balita”.
“Baru pertama dapat program ini, kok malah tidak layak. Balita dikasih welok, apel hijau kecil, rasanya pahit,” ujar seorang orang tua yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Sorotan paling tajam mengarah pada porsi yang dinilai nyaris simbolik.
“Sayurnya cuma lima potong. Itu cukup untuk balita?” keluhnya.
Ekspektasi publik terhadap program pemerintah pun berbalik menjadi kekecewaan.
“Program yang ditunggu-tunggu, tapi hasilnya seperti ini. Miris,” tegasnya.
Di lini distribusi, kader posyandu mengaku hanya menjadi ujung tombak pembagian tanpa akses pada standar mutu.

“Saya hanya membagikan, soal isi silakan ke pihak terkait,” ujarnya singkat.
Pernyataan ini menegaskan problem klasik: distribusi berjalan, kontrol kualitas tertinggal. Rantai pelaksanaan terlihat timpang rapi di perencanaan, longgar di eksekusi.
Dari sisi pengelola, ahli gizi SPPG Kembangan 02, Dita, menyebut menu telah memenuhi Angka Kecukupan Gizi (AKG) secara hitungan, namun mengakui potensi deviasi saat pemorsian.
“Secara gramasi sudah sesuai AKG, tapi bisa saja terjadi kekeliruan saat pemorsian,” jelasnya.
Terkait apel hijau yang dikeluhkan pahit, ia menyebut faktor alam sebagai variabel.
“Buah sebelumnya tidak bermasalah, tapi rasa bisa berbeda karena faktor alam,” tambahnya.
Kepala SPPG Kembangan 02, Abdul Ghani, menyatakan pihaknya membuka ruang evaluasi dan siap menindaklanjuti komplain.
“Keluhan akan kami evaluasi, termasuk penggantian jika diperlukan,” ujarnya.
Secara angka, menu diklaim memenuhi kebutuhan dasar: sekitar 462,2–490,1 kkal dengan protein 10,5–11 gram. Namun persoalan kunci bukan berhenti pada kalkulasi, melainkan penerimaan.
Makanan yang tidak dimakan, tidak memberi gizi. Di titik ini, program dinilai gagal menjawab pertanyaan paling elementer: apakah balita mau dan mampu mengonsumsinya?
MBG di bawah Badan Gizi Nasional memiliki standar jelas memenuhi AKG, seimbang, aman, dan dapat diterima. Kasus Kembangan membuka celah lebar antara desain kebijakan dan realitas lapangan.
Ketika porsi diperdebatkan, rasa ditolak, dan distribusi berjalan tanpa pengawasan mutu yang ketat, tujuan program berisiko melenceng dari sasaran.
Gratis bukan alasan untuk menurunkan kualitas. Tanpa kontrol yang tegas dan konsisten, MBG berpotensi bergeser dari solusi menjadi beban baru bagi penerima manfaat.
Redaksi PNN



