
BANJARNEGARA — PNN NEWS- Kampus Politeknik Banjarnegara menjadi ruang tumbuh harapan bagi orang tua dan pendidik dalam kegiatan bertajuk “Membangun Asa Anak Istimewa Melalui Parenting Inklusif” yang diselenggarakan oleh Rumah Terapi Pelangi Insan, Minggu (28/12/2025).
Kegiatan ini diikuti oleh para orang tua anak berkebutuhan khusus, pendidik, serta pemerhati pendidikan inklusif dari berbagai wilayah di Kabupaten Banjarnegara. Forum ini menjadi wadah edukasi sekaligus penguatan mental bagi keluarga yang tengah berjuang mendampingi anak-anak istimewa.

Tujuan utama kegiatan ini adalah meningkatkan pemahaman orang tua dan masyarakat mengenai pentingnya pola asuh inklusif dalam mendukung tumbuh kembang anak berkebutuhan khusus. Parenting inklusif dipandang sebagai fondasi strategis dalam membangun kepercayaan diri, kemandirian, serta menggali potensi anak agar dapat berkembang optimal sesuai karakter dan keunikannya masing-masing.
Direktur Politeknik Banjarnegara, Drs. Azis Purwanto, MM, dalam sambutannya menegaskan komitmen institusinya terhadap pendidikan inklusif. Ia menyampaikan rencana pembukaan sekolah inklusi di Banjarnegara sebagai bentuk keberpihakan nyata terhadap anak-anak istimewa.
Menurutnya, kepedulian terhadap anak berkebutuhan khusus merupakan tanggung jawab moral bersama, tidak semata dibebankan kepada lembaga pendidikan.
“Sekolah inklusi harus hadir di tengah masyarakat sebagai ruang aman dan ruang belajar bersama, termasuk bagi orang tua yang sedang berjuang mendampingi anak-anak istimewa. Melalui parenting inklusif, kita menanamkan harapan dan membuka jalan menuju masa depan yang lebih baik,” ujarnya.
Kegiatan ini diisi dengan pemaparan materi oleh narasumber kompeten di bidang pendidikan inklusif, hipnoterapi, dan psikologi anak. Materi meliputi pemahaman karakter anak berkebutuhan khusus, strategi komunikasi positif dalam keluarga, serta penguatan peran orang tua sebagai mitra utama sekolah dalam pendidikan inklusif.
Sesi diskusi interaktif menjadi bagian yang paling menyentuh, ketika para orang tua berbagi pengalaman, tantangan, dan harapan dalam mendampingi anak-anak mereka. Suasana empati dan kebersamaan terasa kuat, menegaskan bahwa perjuangan orang tua anak istimewa bukanlah perjalanan yang dijalani sendiri.
Salah satu peserta mengungkapkan rasa syukurnya atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, parenting inklusif memberikan pemahaman baru sekaligus menumbuhkan semangat dalam mendampingi anak menghadapi masa depan.
Pada akhir kegiatan, Direktur Politeknik Banjarnegara turut mengapresiasi lahirnya komunitas Perkumpulan Orang Tua Inklusi Banjarnegara (PortaBara) yang secara resmi diresmikan usai acara.
Parenting inklusif bukan sekadar pola asuh, melainkan upaya membangun asa, merawat keberagaman, dan menyiapkan masa depan yang bermartabat bagi setiap anak tanpa terkecuali.



