
PURBALINGGA – PNN NEWS, 28 Juli 2026 – Pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang merupakan salah satu program prioritas nasional pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, mendapat sorotan di Kabupaten Purbalingga. Sebanyak 746 ompreng makanan dikembalikan pihak sekolah kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) setelah ditemukan dugaan makanan sudah tidak layak konsumsi sebelum dibagikan kepada para siswa.
Informasi yang dihimpun PNN NEWS menyebutkan, pengembalian ratusan paket makanan tersebut terjadi sekolah SMP N Bojongsari pada Senin (27/7/2026). Keputusan diambil setelah sejumlah guru melakukan pengecekan dan mencicipi sampel menu yang diterima dari SPPG beji bojongsari. Dari hasil pemeriksaan awal, makanan diduga telah mengalami perubahan rasa dan aroma yang mengindikasikan penurunan kualitas.
Salah seorang guru yang juga bertugas sebagai koordinator Program MBG di sekolah membenarkan adanya pengembalian seluruh paket makanan tersebut.
«”Betul, kemarin Senin, 27 Juli, setelah beberapa ompreng kami cicipi ternyata rasanya sudah basi. Demi menghindari risiko terhadap siswa, kami memutuskan seluruh makanan dikembalikan ke SPPG, Beji Bojongsari” ujarnya kepada PNN NEWS.»
Guru SMP N 2 B ojongsari lainnya mengungkapkan, menu ayam dan pepes tahu diduga telah mengalami perubahan rasa.
«”Ayam dan pepes tahunya terasa asam. Bahkan ada guru yang sempat merasa mual setelah mencicipinya. Kami berharap kejadian seperti ini tidak terulang lagi karena yang mengonsumsi adalah anak-anak sekolah,” katanya.»
Menanggapi hal tersebut, pengelola yayasan yang menaungi operasional SPPG mengakui adanya penarikan makanan. Namun, pihaknya menduga penurunan kualitas makanan terjadi saat proses distribusi.
«”Kemungkinan terjadi karena makanan diantar menggunakan mobil boks, sementara pendingin (AC) kendaraan tidak menjangkau bagian belakang. Setelah kami cek, tidak semua makanan basi,” jelasnya.»
Ketua SPPG juga membenarkan bahwa seluruh makanan yang diduga bermasalah langsung ditarik sebagai langkah pencegahan.
«”Iya, memang kami tarik kembali daripada nanti menimbulkan masalah. Dugaan sementara, saat proses pengantaran suhu di bagian belakang kendaraan cukup panas karena AC tidak menjangkau seluruh ruang muatan. Akibatnya ompreng menjadi lembap atau berembun sehingga kualitas makanan menurun,” ujarnya.»
Peristiwa ini menjadi perhatian serius karena Program Makan Bergizi Gratis menyasar peserta didik sebagai penerima manfaat. Dugaan adanya makanan yang mengalami penurunan kualitas sebelum sampai ke tangan siswa menunjukkan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengendalian mutu, mulai dari proses produksi, penyimpanan, pengemasan, hingga distribusi.
Distribusi makanan siap santap semestinya dilakukan dengan sistem yang mampu menjaga suhu dan kualitas pangan sesuai standar keamanan pangan. Setiap potensi celah dalam rantai distribusi perlu segera diidentifikasi dan diperbaiki agar tidak menimbulkan risiko terhadap kesehatan peserta didik maupun mengurangi kepercayaan masyarakat terhadap pelaksanaan Program MBG.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada laporan siswa mengalami keracunan, karena seluruh paket makanan telah lebih dahulu ditarik dan dikembalikan sebelum dibagikan kepada para penerima manfaat. Meski demikian, peristiwa ini diharapkan menjadi bahan evaluasi bagi seluruh pihak terkait agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.


