
Purbalingga – PNN NEWS – 18 Februari 2026
Di sebuah kafe di Kabupaten Purbalingga, sejumlah punggawa dalam satu profesi berkumpul. Bukan sekadar ngopi dan berbincang ringan, tetapi merajut kembali makna persaudaraan yang kian tergerus kepentingan.
Pertemuan itu berlangsung hangat, namun sarat pesan tegas. Di tengah dinamika dan perbedaan pandangan, satu hal mengemuka dengan jelas: perbedaan adalah hal wajar, tetapi menjadikan perbedaan sebagai alat menjatuhkan sesama adalah bentuk kemunduran moral. Lebih memprihatinkan lagi jika persahabatan hanya hadir saat ada kepentingan, lalu menghilang ketika manfaat telah diraih.
Solidaritas bukan slogan. Ia menuntut konsistensi.
Etika profesi bukan pajangan. Ia menuntut komitmen.
Integritas bukan narasi. Ia menuntut keberanian.
Persahabatan sejati tidak dibangun di atas kepentingan sesaat. Ia lahir dari rasa saling menghormati, kejujuran, dan kesadaran bahwa kekuatan kolektif jauh lebih bermartabat daripada ambisi pribadi. Jika kebersamaan hanya dijadikan alat, maka yang tersisa hanyalah kerapuhan dan ketidakpercayaan.
Dalam diskusi tersebut juga ditegaskan bahwa menjaga marwah profesi adalah tanggung jawab bersama. Tidak ada ruang untuk saling menjatuhkan demi panggung pribadi. Tidak ada tempat bagi praktik saling memanfaatkan atas nama solidaritas. Profesi yang besar lahir dari pribadi-pribadi yang beradab.
Ekosistem kerja yang sehat hanya akan terwujud jika komunikasi dibangun secara terbuka, kritik disampaikan dengan etika, dan perbedaan disikapi dengan kedewasaan. Tanpa itu, persaudaraan hanya menjadi retorika kosong.
Karena sejatinya, adab lebih tinggi dari ilmu. Orang beradab pasti berilmu, tetapi orang berilmu belum tentu beradab.
Semoga silaturahmi ini menjadi pengingat bahwa persahabatan tidak diukur dari seberapa sering kita bertemu, tetapi dari seberapa tulus kita menjaga satu sama lain.
Salam seduluran salawase. Salam satu pena.


