
PNN NEWS.COM PURBALINGGA —11/04/2026– Proyek pembangunan jalan rabat beton di RT 12 RW 5, Desa Bakulan, Kecamatan Kemangkon, Kabupaten Purbalingga, menuai sorotan tajam. Pasalnya, jalan yang baru rampung pada Desember 2025 itu kini sudah mengalami kerusakan di sejumlah titik, meski belum genap tiga bulan digunakan.

Jalan sepanjang 186,2 meter dengan lebar 3,3 meter dan ketebalan 15 cm tersebut merupakan proyek yang bersumber dari Bantuan Keuangan Provinsi Jawa Tengah (Banprov) Tahun Anggaran 2025. Pekerjaan dilaksanakan secara swakelola oleh masyarakat setempat. Namun, kondisi di lapangan justru menunjukkan hasil yang jauh dari harapan.
Dari pantauan, permukaan jalan mulai retak dan tampak tidak merata di beberapa bagian. Kerusakan dini ini memicu kekecewaan warga sekaligus menimbulkan dugaan kuat adanya persoalan pada kualitas pekerjaan.
Warga Soroti Mutu Pekerjaan
Sejumlah warga secara terbuka mengkritik hasil proyek tersebut. Mereka menilai kualitas jalan tidak konsisten dan terkesan dikerjakan tanpa standar teknis yang memadai.

“Kualitasnya kacau, Mas. Dari awal kami sudah mengusulkan pakai beton ready mix, tapi tidak dihiraukan. Ketebalan dan lebar memang sesuai, tapi kualitasnya jelek,” ungkap salah satu warga yang meminta identitasnya dirahasiakan.
Warga lain juga menyoroti perbedaan kualitas antar titik pekerjaan.
“Di awal masih lumayan bagus, tapi makin ke sana makin jelek. Pasirnya diduga banyak lumpur, dan yang kerja juga bukan tukang,” katanya.
Pemerintah Desa Akui Kendala Cuaca dan Material
Bendahara Desa Bakulan, Manda, membenarkan proyek tersebut merupakan kegiatan Banprov yang dikerjakan secara swakelola. Ia menyebut pengadaan material dilakukan oleh pihak tertentu, sementara pelaksanaan oleh warga.
Sementara itu, Kepala Desa Bakulan, Suyatmi, mengakui adanya kendala selama proses pengerjaan, terutama faktor cuaca dan kualitas material.
“Pengerjaan saat itu terkendala hujan dengan intensitas tinggi. Selain itu, kualitas pasir yang datang juga kurang bagus. Di sisi lain, kami dikejar target penyelesaian akhir tahun,” jelasnya.
Pengelola Proyek: Terkendala Hujan dan Minim Tenaga Ahli
Kepala Dusun sekaligus pengelola kegiatan, Sutomo, membantah tudingan pekerjaan dilakukan asal-asalan. Ia menegaskan kondisi cuaca menjadi faktor dominan yang memengaruhi hasil akhir.
“Hampir setiap hari kerja terganggu hujan. Bahkan saat pekerjaan hampir selesai, hujan deras turun. Kami juga tidak mendapatkan fasilitas penutup seperti plastik karena tidak masuk dalam RAB,” ujarnya.
Ia juga mengakui keterbatasan tenaga kerja berpengalaman.
“Kami kesulitan mencari tenaga profesional. Banyak yang memilih kerja di proyek lain, sementara warga sedang fokus di pertanian,” tambahnya.
Indikasi Kuat Mutu Beton Tidak Tercapai
Seorang praktisi konstruksi menilai kerusakan dalam waktu singkat merupakan indikasi serius bahwa mutu beton tidak memenuhi standar.

“Kalau baru tiga bulan sudah retak, hampir pasti ada masalah pada mutu. Bisa dari campuran, kualitas agregat yang kotor, atau proses curing yang tidak maksimal. Tenaga kerja yang tidak kompeten juga sangat berpengaruh,” tegasnya.
Perbaikan Dilakukan, Evaluasi Menyeluruh Dituntut
Pihak pengelola mengaku telah melakukan perbaikan di sejumlah titik sebagai langkah awal.
“Beberapa bagian sudah kami tambal dan ratakan sebagai bentuk tanggung jawab,” kata Sutomo.
Meski demikian, warga mendesak adanya evaluasi menyeluruh dari pihak terkait, mulai dari perencanaan, pengawasan, hingga pelaksanaan proyek. Mereka berharap pembangunan infrastruktur ke depan tidak lagi mengorbankan kualitas, agar anggaran yang digelontorkan benar-benar memberi manfaat jangka panjang bagi masyarakat.


