
PURBALINGGA | PNN NEWS — Embung Desa Pelumutan, Kecamatan Kemangkon, Kabupaten Purbalingga, dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi desa wisata (Deswita). Dengan luas mencapai satu hektare dan berada di atas tanah milik desa, kawasan ini menawarkan prospek ekonomi, sosial, dan lingkungan yang signifikan bagi masyarakat setempat. Selasa (25/11/2025).
Potensi Embung sebagai Destinasi Wisata
Secara fungsi, embung berperan sebagai tampungan air untuk irigasi dan kebutuhan air baku. Namun, karakteristik alamiah berupa hamparan air di tengah lingkungan perdesaan menjadikannya objek yang sangat potensial untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata.
Beberapa nilai unggul embung antara lain:
Daya Tarik Alam: Pemandangan asri, udara segar, dan suasana yang tenang sangat cocok untuk konsep ekowisata dan relaksasi.

Aktivitas Rekreasi: Embung dapat dikembangkan menjadi lokasi memancing, arena perahu, trekking atau jogging track, hingga berbagai spot foto bernilai estetika.
Edukasi Lingkungan: Embung berpotensi menjadi ruang belajar terbuka mengenai pengelolaan air, pertanian, dan ekosistem lokal.
Dampak Ekonomi: Kehadiran destinasi wisata akan memicu pertumbuhan UMKM seperti kuliner, kerajinan, hingga homestay yang memberikan multiplier effect bagi perekonomian desa.
Harapan Pemerintah Desa
Kepala Desa Pelumutan, Gendroyono, menjelaskan bahwa embung seluas satu hektare tersebut merupakan aset desa, sementara pembangunan fisik embung sebelumnya dilakukan oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Serayu Opak.
“Kami berharap pemerintah pusat, provinsi, kabupaten, serta para investor dapat ikut berperan dalam pengembangan Embung Desa Pelumutan menjadi destinasi desa wisata,” ujarnya.
Peran Strategis Investor
Gendroyono menegaskan bahwa meskipun potensi alamnya sangat mendukung, embung tetap membutuhkan intervensi pengembangan agar menarik dan berdaya saing.
Investor dinilai memiliki peran penting dalam aspek berikut:
Peningkatan Fasilitas: Pembangunan area parkir, toilet, gazebo, perahu wisata, dan peningkatan akses jalan.
Manajemen Profesional: Keterlibatan investor membawa tata kelola wisata yang lebih terstruktur, efisien, dan berkelanjutan, termasuk strategi pemasaran yang tepat sasaran.
Penguatan Pembiayaan: Pendanaan dari investor menjadi sumber tambahan yang dapat melengkapi anggaran desa dan mempercepat pengembangan kawasan.
“Dukungan investor akan mempercepat proses pembangunan sekaligus memastikan kualitas fasilitas agar sesuai standar pariwisata,” pungkasnya.



